Judul Cerpen "Menjemput Matahari di Lubang Semut"
Karya: Meisela Hawwa Husna
Prodi: S1 Sosiologi - 2025
Menjemput Matahari di Lubang Semut
Karya: Meisela Hawwa Husna
Matahari pagi yang cerah di Desa Karang Kobar, turut menyinari hiruk pikuk kehidupan desa. Namun, masa depan sepertinya tidak se-cerah mentari pagi itu. SDN 01 Karang Kobar adalah satu-satunya harapan masa depan yang ada di sana. Tembok kelas yang sudah miring, meja kursi yang sudah lapuk, serta gaji guru honorer yang imut juga turut melengkapi gambaran bagaimana masa depan siswa yang akan terbentuk.
“Ibu, aku berangkat dulu ya.” Pamit Ali, seorang siswa kelas 3 SDN 01 Karang Kobar, yang sepertinya kurang beruntung. Ali merupakan anak tunggal dan periang yang miskin dan hanya hidup bersama ibunya, karena ayahnya tidak pernah pulang sejak ia masih balita. Meski begitu, semangat Ali selalu membara untuk bersekolah. Melewati pepohonan dan jalanan penuh lumpur dengan sepatunya yang “berbicara” adalah sebutan untuk sepatu menganga milik Ali.
“Kamu terlambat lagi?” Tegur Bu Ratna, guru muda yang tegas namun penuh welas asih. “Maaf, Bu” jawab Ali. Bu Ratna selalu memaklumi keterlambatan Ali, karena ia tahu struggle hidup yang dialaminya.
Bel istirahat berdenting...
Bobby, anak kepala desa yang setiap pagi diantar menggunakan motor ninja itu menghampiri Ali. “Ali – Ali, kasian ya hidupmu miskin, cuma bisa menonton orang makan jajan, pffft. Jangankan membeli jajan, untuk membeli sepatu baru saja kamu ga mampu, liat tuh sudah mangap, ha-ha-ha” ejeknya sambil menggelengkan kepala. Ali hanya terdiam dan sibuk menulis di lantai pojok baca, karena sejak kecil ia sudah terbiasa dengan kata-kata semacam itu, kini ia benar-benar tak peduli.
Di bangku sudut ruang guru, Bu Ratna terduduk sembari membuka laci mejanya dan termenung. Di sana, Bu Ratna memandangi buku tabungan PIP (Program Indonesia Pintar) milik kelas 3 yang diampu olehnya. “Sampai sekarang, PIP Ali kok masih dalam proses ya, sedangkan Bobby sudah mencairkannya 3x dalam setahun ini” batin Bu Ratna dengan dahi yang mengernyit.
Bel penanda masuk kelas...
Di sudut lain, bantuan pemerintah untuk perbaikan fasilitas sekolah dan juga pemberian laptop serta barang-barang elektronik lainnya sudah dicairkan dan diterima oleh Pak Kepo selaku Kepala Sekolah. Namun, hari itu Pak Kepo justru sibuk mengecat ruangannya sendiri, memasang AC, memakai laptop baru, membeli sofa baru dan perlengkapan-perlengkapan lain untuk menambah “estetika” ruangannya. Tak terbesit sedikitpun dalam pikiran Pak Kepo untuk memprioritaskan perbaikan tembok ruang kelas yang miring atau mengganti meja dan kursi yang sudah goyang karena pakunya terlepas dan keropos dimakan usia. Pak Kepo juga tidak memikirkan bagaimana pemerataan dan pencairan PIP siswanya. Bu Ratna yang saat itu melewati depan ruang Pak Kepo untuk menuju kelas hanya bisa menggelengkan kepala dan mengucap “Astaghfirullahal-adzim” dalam batin.
Pembelajaran kelas berlangsung sampai bel pulang sekolah berdenting...
“Sekian pembelajaran hari ini, silahkan berkemas untuk pulang dan berdoa” tegas Bu Ratna. Saat siswa sibuk berkemas, Bobby berteriak “IHHH TOPIKU HILANG”. Sontak teriakan itu membuat satu kelas terkejut dan menghampiri Bobby, termasuk Bu Ratna. “Siapa yang mencuri topiku, tadi ada di kolong mejaku!” seru Bobby. Bu Ratna hanya bisa menenangkan sambil membantu mencari. Entah apa yang ada di pikiran Bobby saat itu, namun Bobby langsung berkata “Hey si miskin, kau pasti yang mencuri topiku kan, Ali”. Ali terkejut dan mengelak “Bukan aku, aku saja tidak tahu topimu seperti apa”. Aldi sahabat Bobby langsung menyela “Bohonggg, kamu pasti pencurinya!”.
Keributan di kelas tersebut, membuat Pak Kepo datang dan berusaha menenangkan. “Yasudah, kita periksa saja barang-barang Ali, supaya tidak saling menuduh” tegas Pak Kepo. Saat tas Ali sedang diperiksa, ternyata benar, di dalamnya terdapat topi Bobby yang hilang. Ali menangis dan berkata “Demi Tuhan, ini fitnah. Saya tidak mengambil pak, saya bahkan tidak tahu”. Plakkk, Pak Kepo langsung menampar Ali dan berkata “Dasar kamu panjang tangan, sudah terbukti salah tapi masih mengelak! Atau mau saya laporkan saja kamu ke polisi!”. Semua orang terkejut, terdiam dan membisu melihat Ali yang ketahuan mencuri dan ditampar sampai pipinya membiru oleh Pak Kepo.
Ali terpaksa meminta maaf kepada Bobby, meski ia tahu bahwa dirinya tak bersalah. Semua orang mengejek dan mencemooh Ali, termasuk Bobby and the gang. Saat siswa sudah diperbolehkan pulang, Bu Ratna masih termenung di bangku meja guru, ia tak percaya terhadap perbuatan Ali dan ia juga tak menyangka Ali akan mengalami kekerasan seperti itu oleh Pak Kepo, karena ia tahu Ali adalah anak yang cerdas dan jujur. Bu Ratna hanya bisa diam, cemas dan berharap bahwa Ali akan baik-baik saja.
Keesokan harinya...
Bu Ratna sedang bersiap menunggu jam masuk kelas di ruang guru sembari melihat ponselnya. Jam menunjukkan pukul 07.00 yang berarti Bu Ratna harus segera memasuki ruang kelas. Sesampainya di ruang kelas, ia tak melihat Ali di sana. “Ali kemana ya? Apakah ada yang tahu atau dititipin surat izin?” tanya Bu Ratna kepada murid-muridnya. “Gatau bu, paling ga masuk karena malu jadi maling, hahaha” sahut Bobby dan diikuti seruan tertawa oleh teman-temannya. “Hey istighfar, Ali itu teman kalian, sudah lah kita mulai saja pembelajarannya” tegur Bu Ratna.
Bel pulang sekolah berdenting...
“Ali beneran ga masuk hari ini tanpa kabar, aku kok jadi khawatir ya” batin Bu Ratna di ruangannya. Sontak terbesit di pikiran bu ratna untuk mendatangi dan mengecek keadaan Ali di rumahnya dengan berjalan kaki, karena gajinya tak cukup untuk membeli sepeda motor dan tidak ada transportasi umum yang bisa mengantarnya ke sana. Perjalanan ke rumah Ali cukup jauh dan melewati beberapa pepohonan serta jalanan yang berlumpur karena rumahnya berada di pelosok desa. “Ya Tuhan, jadi ini yang dirasakan Ali setiap hari” lirihnya.
Saat melewati pepohonan yang rindang, Bu Ratna melihat ada sepatu yang tergeletak di dekat semak-semak. “Sepertinya sepatu ini tidak asing” pikirnya. Bu Ratna menghampiri sekitar sepatu itu dan terkejut melihat Ali yang sudah tergeletak dan mengeluarkan bau busuk dengan pergelangan tangannya yang berdarah seperti bekas sayatan benda tajam. “Aliii, bangun Ali, apa yang terjadiii” teriak Bu Ratna. Di sebelah tubuh mungil ali, terdapat gulungan kertas yang bertuliskan kalimat terakhir Ali.
“Ibu, maafkan Ali yang menyerah. Ali bukan tidak ingin bersama lagi, tapi Ali sudah cape, Bu. Ali mau ke surga, karena di sana akan ada sepatu baru, tempat sekolah baru, alat tulis baru, teman-teman yang baik, dan kepala sekolah yang tidak suka memukul Ali.”
Ya, Ali telah mengakhiri hidupnya.
Berita tersebut tersebar dengan cepat, bahkan ke seluruh penjuru negeri. Jurnalis dan wartawan turut meliput kejadian ini. Akibatnya, satu persatu mulai terbongkar, mulai dari kisah hidup Ali yang malang, pendidikan yang kurang layak, bullying, dugaan depresi, hingga kasus korupsi dana perbaikan sekolah yang dilakukan oleh Pak Kepo. Semua orang merasa simpati, dan tagline #AliYangMalang tersebar di seluruh media sosial. Masyarakat menganggap ini merupakan salah satu bentuk keserakahan pemerintah dan kelalaian hak kemanusiaan untuk masyarakat miskin. Bantuan mulai berdatangan ke desa tersebut, termasuk kepada ibunya Ali yaitu Bu Sari.
Beberapa hari kemudian...
Bu Ratna sedang membereskan meja Ali yang sudah penuh dengan bunga kamboja pemberian teman-temannya. Ia termenung, sedih, sekaligus mengenang Ali yang biasanya duduk ceria di sini sembari mengerjakan soal matematika yang merupakan pelajaran favoritnya. Ia tak percaya bahwa anak periang dan ambisius seperti Ali akan mengakhiri hidupnya begitu saja.
Saat sedang membereskan laci meja Ali, tak sengaja Bu Ratna menemukan buku catatan milik Ali. Namun, ia seperti tak percaya dengan tulisan di dalamnya, karena tulisan itu seperti tulisan dan gaya bahasa orang dewasa. Sambil membaca, Bu Ratna tak sengaja melihat Pak Hendra sedang berdiri dan tersenyum ke arahnya di seberang jendela kelas. Pak Hendra merupakan guru olahraga sekaligus calon pengganti kepala sekolah SDN 01 Karang Kobar, karena Pak Kepo telah dipecat dan dipenjara akibat kasus korupsi yang menjeratnya.
Bu Ratna melanjutkan membaca buku tersebut. Awalnya, isinya normal hanya bertuliskan rumus-rumus matematika milik Ali. Namun, saat membuka lembaran-lembaran berikutnya, Bu Ratna terkejut dan tubuhnya seolah kaku membacanya. Di dalam buku itu, terdapat tulisan yang mengatakan “Aku sudah memindahkan dana PIP milik Ali ke rekening Bobby supaya Ali seolah tidak mendapatkan bantuan apapun. Aku juga sudah menggelapkan 70% dana bantuan perbaikan sekolah dan menghasut Pak Kepo untuk ikut menggunakannya sebanyak 30%, serta membuat narasi di media sosial agar seolah-olah Pak Kepo yang telah menggelapkan dana itu agar posisiku tetap aman, bahkan jabatanku akan naik. Aku juga yang memasukkan topi Bobby ke dalam tas Ali saat jam istirahat supaya Ali dituduh mencuri. Aku juga yang telah menghabisi Ali dengan pisau yang sengaja kutinggalkan supaya Ali terkesan bunuh diri dan membuat kalimat terakhir. Aku sudah lelah sejak jatuh miskin, dan anak yang pintar juga akan sia-sia jika hidupnya miskin, jadi aku membantunya bergelimang harta di SURGA. Terimakasih untuk istriku Sari, sudah membantuku. Kita akan membeli mobil dengan asuransi kematian dan sumbangan itu.”
Bu Ratna membuka hingga halaman terakhir, dan terlihat ada foto Pak Hendra, Bu Sari, dan Ali kecil sedang berdiri di tengah gedung kota yang mewah. Bu Ratna hanya menangis histeris dan menyadari bahwa seseorang akan menjadi serakah dan tidak berperi kemanusiaan saat hidup hanya mementingkan ambisi dan kekayaan semata. Hidup Ali bagaikan menjemput sinar mentari di lubang semut yang penuh dengan kegelapan.

Komentar
Posting Komentar