Puisi "Untuk Pemilik Segala Singgasana"

Oleh: Bue


Tak ada tenggat waktu berbicara dengan-Mu, Tak ada yang mengerti semengerti-Mu,

Dari bibir yang lantang mengadu, Hingga bibir yang diam membisu,

Kau lebih tahu dari kata yang belum sempat kususun.


Aku datang bukan dengan amal yang megah, Dengan menopang sebongkah dosa.

Bibir, mata, tangan, dan seluruh bagian dari diriku, Tetap meminta kepada-Mu.


Hatiku berkali-kali runtuh,

Berkali-kali mempertanyakan segalanya,

Dan Kau datang dengan segala kekuasaan-Mu, Menyelipkan cahaya di diriku.

Tak pernah sekalipun Kau biarkan cahaya itu padam. Siapa aku, jika bukan karena Cahaya-Mu?

Linglung menggerogoti diri ini tanpa-Mu. Di antara kabut dan kegamangan,

Kau hadirkan tabir di diri ini.


Siapa aku, berani mempertanyakan-Mu, Jika setiap napas saja datang dari-Mu?

Aku yang tak bisa melihat-Mu dengan mata, Atau mataku yang terbatas penglihatannya?


Namun,

Beruntung rasanya bisa merasakan kehadiran-Mu, Yang lebih dekat dari nadiku sendiri.

Insan yang terkadang lupa jika seorang hamba,

Menuntut segalanya, tetapi enggan menjalankan perintah-Nya, Mengharap rahmat tanpa taat?


Seringkali terjebak dalam nafsu duniawi,

Dan kebesaran diri-Mu yang selalu menuntunku kembali. Dengan segala kekurangan yang ada di diriku,

Izinkan aku kembali ke surga-Mu kelak.


Komentar