Kompetisi Debat ARGUMENTA 2025 yang diikuti oleh 8 tim yang berasal dari SMA/MA/SMK se-derajat menjadi momentum istimewa bagi para peserta khususnya para pemenang dalam kompetisi ini. Ajang ini menarik perhatian melalui kehadiran dua sosok yang tampil menonjol. Perhatian tersebut tidak hanya muncul karena capaian yang berhasil diraih, tetapi juga karena keduanya merupakan saudara kembar yang sama-sama mencatatkan prestasi membanggakan. Dua peserta tersebut adalah Anggi Dwi Pangestu dan Angga Dwi Sentosa, peraih Juara 1 Lomba Debat ARGUMENTA, sekaligus Best Speaker Lomba Debat ARGUMENTA. Keduanya lahir pada 29 Januari 2008 dan berasal dari Desa Banteran, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas. Meski memiliki latar belakang dan jalur persiapan yang berbeda, mereka menunjukkan bahwa kerja keras, komitmen, serta keberanian mencoba hal baru mampu melahirkan prestasi yang membanggakan, bahkan pada ajang yang baru pertama kali mereka ikuti.
Tulisan ini akan mengenal lebih lanjut tentang saudara kembar yang berhasil menjadi juara dan best spiker dalam kompetisi debat ARGUMENTA 2025 yang diselenggarakan oleh Keluarga Besar Mahasiswa Sosiologi (KBMS) FISIP Unsoed.
Anggi Dwi Pangestu (17 tahun), salah satu anggota tim yang meraih Juara 1 pada Kompetisi Debat ARGUMENTA KBMS FISIP Unsoed. Ketertarikannya pada dunia debat mulai tumbuh sejak duduk di bangku SMP, karena kagum melihat banyak tokoh debat yang memiliki kemampuan berbicara dan berargumentasi. Sebelumnya, Anggi lebih aktif mengikuti berbagai lomba akademik, seperti di bidang biologi dan kompetisi sains lainnya.
Menurut Anggi, debat terasa berbeda dibanding lomba akademik yang biasa ia ikuti. Ia menilai debat sebagai kompetisi yang menyenangkan karena tidak menuntut hafalan, tetapi juga kemampuan berpikir cepat dan menyampaikan gagasan secara logis. Ketertarikan tersebut mendorongnya untuk mencoba mengikuti kompetisi debat. Pada akhirnya, Anggi memutuskan untuk mengikuti Lomba Debat ARGUMENTA, yang menjadi kompetisi debat pertamanya.
Sebagai debaters pemula, Anggi menghadapi tantangan yang cukup besar. Salah satu tantangan utamanya adalah menyusun pendapat secara cepat dan instan ketika mosi diberikan. “Tantangan utama saya adalah bagaimana menyusun pendapat secara cepat dan instan saat mosi diberikan,” ungkap Anggi. Kondisi ini menuntut ketenangan, fokus, serta kemampuan mengelola ide dengan argumentasi dalam waktu yang sangat terbatas. Cara Anggi dalam mengatasi tantangan tersebut adalah dengan memanfaatkan waktu luang untuk belajar kapan saja dan di mana saja. Ia membaca berbagai literatur yang dapat menjadi penguat fakta, memperluas wawasan umum, serta melatih kepercayaan diri dalam berbicara di depan umum. Baginya, kepercayaan diri merupakan kunci penting agar argumen dapat tersampaikan dengan jelas dan meyakinkan dewan juri serta audiens.
Dalam memaknai kemenangan, Anggi memiliki pandangan yang cukup reflektif. Ia menilai bahwa kemenangan dalam debat bukan semata-mata soal menjatuhkan argumentasi lawan. Esensi kemenangan justru terletak pada kemampuan mengombinasikan argumen yang dibangun sendiri dengan argumen dari pihak lawan, sehingga menghasilkan gagasan yang lebih kuat dan utuh. Anggi juga memandang proses debat sebagai bagian dari kemenangan, terutama ketika sebuah tim mampu mempertahankan argumen yang kokoh dan tidak mudah dipatahkan tim lawan. Ia ingin menjadikan debat sebagai ruang belajar, bukan semata-mata ajang untuk mengejar gelar juara, “saya ingin mengikuti lomba debat lainnya dengan niat mencari ilmu dan meningkatkan skill public speaking saya,” tuturnya.
Anggota tim lainnya adalah Angga Dwi Sentoso, selain berhasil meraih juara 1 ia juga berhasil meraih penghargaan Best Speaker Kompetisi Debat ARGUMENTA. Angga mengungkapkan ketertarikannya pada dunia debat berawal dari media sosial, khususnya setelah mengenal konten kreator yang kerap membagikan pengalaman mengikuti lomba debat. Hal tersebut menjadikan Angga mulai tertarik pada teknik berbicara, penyusunan argumen kritis, serta kemampuan berpikir responsif.
Ketertarikan Angga semakin berkembang ketika ia menonton siaran langsung kompetisi debat nasional seperti Lomba Debat Bahasa Indonesia (LDBI) dan Kompetisi Debat Mahasiswa Mahasiswa Indonesia (KDMI) yang diselenggarakan oleh Puspresnas melalui YouTube. Tayangan tersebut membangkitkan keinginannya untuk merasakan langsung atmosfer kompetisi debat dan tampil sebagai seorang debaters.
Kesempatan itu akhirnya datang melalui Kompetisi Debat ARGUMENTA yang diselenggarakan oleh KBMS FISIP Unsoed. Menariknya, ARGUMENTA menjadi kompetisi debat pertama yang diikuti Angga. Di saat yang bersamaan, ia tengah mengikuti berapa kompetisi akademik, seperti Olimpiade Sains Nasional (OSN) Puspresnas, Olimpiade Genomik Indonesia, Biofest UMP, dan kompetisi sains lainnya. Namun, ditengah kesibukan lainnya, Angga berkomitmen untuk mempersiapkan diri secara maksimal.
Selama masa persiapan, Angga memperdalam tema debat melalui riset isu-isu aktual di internet, memanfaatkan Artificial Intelligence untuk simulasi mosi debat, serta melatih public speaking dengan batasan waktu tertentu. Selain itu, Angga juga berlatih berpikir kritis melalui simulasi studi kasus dalam waktu singkat. Sebagai debaters pemula, Angga menghadapi tantangan tersendiri. Ia merasa sulit dalam menyusun argumen dalam waktu terbatas dan menanggapi interupsi dari pihak lawan, hal ini selaras dengan perkataan Angga “Tantangan terbesar saya adalah menyusun argumen secara terstruktur dalam waktu terbatas dan menanggapi POI serta argumentasi lawan,” jelasnya. Namun, latihan konsisten yang dilakukan membuat Angga mampu tampil lebih percaya diri hingga berhasil meraih predikat Best Speaker.
Kemenangan yang diraih Angga dalam ARGUMENTA, tidak membuatnya merasa besar kepala. Ia berpendapat bahwa debat bukan tentang siapa yang paling unggul atau paling kuat menjatuhkan lawan. Kemenangan sejati terletak pada kontribusi ide yang rasional, ilmiah, dan berbobot terhadap mosi yang diperdebatkan. Bagi Angga, kemampuan mengendalikan emosi dan faktor eksternal diluar debat justru menjadi kunci agar argumen dapat disampaikan dengan lancar dan mudah dipahami. Angga berharap dapat terus mempertahankan nilai sportivitas dan meningkatkan kemampuan debatnya melalui berbagai kompetisi dari lembaga lain. “Saya ingin membuktikan kemampuan debat saya tidak hanya dengan rasa unggul, tetapi juga lewat capaian prestasi yang berkelanjutan” ungkapnya.
Keberhasilan Anggi Dwi Pangestu dan Angga Dwi Sentoso di Ajang Lomba Debat ARGUMENTA 2025 menjadi bukti bahwa keberanian untuk mencoba hal baru dan berusaha, dapat membawa hasil yang membanggakan. Prestasi keduanya tidak hanya mencerminkan kemampuan individu, tetapi juga menegaskan bahwa debat merupakan ruang belajar yang menumbuhkan pola pikir kritis, kemampuan komunikasi, serta sikap sportif. Kisah saudara kembar ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi pelajar lainnya untuk berani mengeksplorasi potensi diri, baik dibidang akademik maupun nonakademik, serta menjadikan setiap proses sebagai bagian penting dari sebuah keberhasilan.


yaampun keren banget... anak kembar..
BalasHapusSUPER PROUDDD!!👏🏻
BalasHapus