Cerpen "Kebebasan"

  

Karya: Akmal Nabil Farras


Angin berhembus menusuk kulit disertai dengan terpaan ombak di tepian pantai. Aku tengah duduk bersama sahabatku di bangku mini yang kokoh. Bersamaan dengan suara deburan ombak, ia bertanya.

 “Menurutmu apa makna kemerdekaan yang sesungguhnya to?” bisikan suara sahabatku menembus daun telinga, menggema, dan merangsang memaksa masuk ke otak lalu ku cerna.

 “Hah?” sambil mengernyitkan dahi, aku berekspresi keheranan dengan pertanyaan aneh yang dilontarkan oleh sahabatku, Ahmad namanya.

 Nampak mengerti dengan maksudku, ia memperbaiki posisi duduknya dan menanyakan ulang “Iya, tepat seperti yang kau pikirkan to.”

 “Hey apa maksudmu barusan? Aku saja tak mengerti kenapa kau tiba-tiba bicara begitu” Makin kebingungan aku dibuatnya.

 “Masa masih tak paham? Aku menanyakan apa makna kemerdekaan menurutmu.” Tegas ulang Ahmad.

 “Bukankah itu sudah jelas? Buat apa ditanyakan? Dongo sekali kau Mad, buat apa menanyakan sesuatu yang jawabannya sudah pasti.” Gertakku sambil sedikit tersenyum sinis.

 “Emang apa jawabannya?” Dengan alis terangkat seolah menunggu jawabanku. Semakin aku menghindar maka akan semakin ditanya pula, jadi percuma saja mengelak.

 “Oh tentu saja makna kemerdekaan adalah kebebasan, bukankah semua orang sudah tahu itu? Lalu kenapa kau menanyakannya?” Tanyaku balik ke Ahmad.

 “Yakin?”

 “Iyalah aku yakin seratus persen!” sambil membusungkan dada, karena aku yakin jawabanku pasti betul.

 Ahmad semakin mencecarku dengan pertanyaan selanjutnya “Memangnya kebebasan menurutmu itu yang seperti apa?”

 “Haruskah aku menjawabnya lagi?” Kali ini bukan hanya dahi yang ku kerutkan, tapi daguku pun mulai berkerut saking keheranan dengan Ahmad yang menanyakan berbagai pertanyaan absurd nan random ini.

 “Iyalah, bukankah kamu tadi mengatakan tentang kebebasan? Kau harus bertanggungjawab dengan ucapan yang kau katakan barusan!” Tegas Ahmad semakin memojokanku. Tak punya pilihan lain, aku pun terpaksa menjawab.

 “Kebebasan dalam artian bebas segalanya, semuanya. Bebas dari segala hal, termasuk bebas dari penjajahan. Itulah makna kemerdekaan yang ku pahami Mad.”

 “Oke kalo itu pendapatmu, aku bisa menerimanya.” Ahmad mengangguk-angguk tanda bahwa ia mengerti atas jawabanku. Namun ia menambahkan.

 “Tapi semoga saja yang kau ucapkan itu benar ya, semoga saja kemerdekaan dan kebebasan seindah kata-kata. Hanya saja kau perlu sadar akan realita to.” Sambil menepuk pundakku, Ahmad beranjak dari bangku mininya dan hendak pergi.

 “Gua duluan ya to, sehat-sehat. Dah.” Lambaian tangan Ahmad perlahan mulai menghilang seperti matahari tenggelam menyisakan sunset yang amat indah.

 Aku masih tak paham kenapa Ahmad yang biasanya terlihat santai dan suka bercanda tiba-tiba membicarakan soal kemerdekaan dan kebebasan. Apakah hanya karena sebentar lagi menjelang kemerdekaan? Ku rasa bukan karena itu. Tak ingin makin pusing, aku pun berdiri dari bangku tempatku duduk. Ku langkahkan kaki menuju Restoran Keluarga yang berdiri megah di pesisir pantai dengan berbagai macam ornamen kemerdekaan disertai bendera merah putih yang menjulang tinggi di angkasa.

 Suasana restoran sangat rame didatangi turis-turis dari berbagai manca negara datang untuk sekadar menikmati indahnya pasir putih di Laut Arunika atau memandang indahnya sang mentari yang kian tertelan bumi.

Pasca matahari benar-benar terlelap dalam tidurnya, hari kini mulai petang menandakan bahwa pesta kan segera di mulai. Biasanya resto kami mengadakan pesta sesuai hari besar yang tengah dirayakan pada bulan tersebut. Seperti contohnya pada bulan Halloween akan membuat Jack-o'-Lantern, pada malam natal kan menghias pohon cemara dengan gemerlap lampu kelap-kelip yang cantik, pada malam tahun baru membuat kembang api raksasa yang ditabuh di pinggir pantai, serta malam Valentine membuat cokelat hand made bersama. Semua kan terasa menyenangkan dan amat berkesan bagi pengunjung yang datang. Namun peristiwa apa yang terjadi pada bulan Agustus selain hari kemerdekaan? Ku rasa tidak ada hari spesial lainnya pada bulan ini sehingga kami mulai mendekor Restoran Keluarga ini yang awalnya terlihat biasa saja disulap menjadi mewah nan penuh akan ornamen serta hiasan bertemakan merah putih.

Meski sudah se-ramai ini tapi tak terlihat satu wajah ceria yang terpampang dari wajah pelanggan, semuanya terlihat murung dan bosan seolah tak ada sesuatu yang istimewa. Tentu saja mereka terlihat lesu, karena tidak ada yang mengerti betapa pentingnya hari kemerdekaan. Mereka hanya turis yang datang entah dari negara mana saja, tentu tidak paham bahwa ornamen dan hiasan yang terpampang di tiap sudut ruangan merupakan upaya untuk menyambut hari lahirnya negara ini. Ketika aku sedang melamun dan tenggelam dalam pikiranku, salah satu staff dapur memecah keheninganku.

“Tuan tuan, sepertinya beberapa pengunjung mengeluhkan berbagai masalah. Sebagian membatalkan booking dan hendak pergi.”

“Apa yang terjadi han?” Aku bertanya balik ke salah satu staff dapurku yang bernama Arhan.

“Sepertinya mereka merasa tidak nyaman karena suasana seperti ini sangat asing dan tidak pernah terjadi di negara asal mereka tuan.” Jelas Arhan dengan kepala sambil menunduk, sepertinya ia merasa semua salahnya karena tidak dapat menghibur hati para pengunjung untuk riang gembira.

“Tenang saja han, jangan khawatir. Serahkan saja padaku!” Jawabku dengan tegas sambil menepuk pundak Arhan dan beranjak pergi menemui para pengunjung yang mengeluh tersebut.

Aku mengetuk gelas tiga kali dan menghasilkan bunyi “Ting...ting...ting” suasana seketika langsung jadi lenggang sejenak.

“Perhatian semuanya, Saya Toto selaku pemilik dari Restoran Keluarga ini ingin meminta maaf jika anda sekalian merasa tidak nyaman. Pasti kalian semua heran dan bertanya-tanya mengapa tema Restoran kali ini sangat jauh berbeda dengan bulan-bulan sebelumnya. Tidak ada menghias pohon natal, tak ada mengukir labu, ataupun membuat cokelat. Namun perlu kalian ketahui bahwa kami berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan pelayanan terbaik agar anda sekalian merasa nyaman. Oleh karena itu, saya harap jangan beranjak dari tempat duduk dulu, saya ingin anda sekalian menyaksikan acara utama dari malam ini yaitu ‘Pesta Kemerdekaan’.” Aku mengatakan panjang lebar begitu tentu saja diterjemahkan ke bahasa inggris oleh penerjemah pribadiku. Sungguh menyedihkan memang pemilik dari Restoran Keluarga ternama justru tak bisa berbahasa inggris dan hanya mengandalkan translator untuk menerjemahkan bahasa-bahasa dari para bule ini.

Setelah translator pribadiku selesai menerjemahkan, lampu langsung padam. Beberapa pengunjung mulai panik dan berdiri dari tempat duduknya. Namun cahaya dari lampu sorot mulai menyala mengarah ke arah panggung tempatku berdiri. Enam penari Arunika keluar dari balik layar dan mulai menampilkan keelokan tarian mereka dengan ciri khas utama yaitu kebaya merah.

Aku sudah mempersiapkan seperti ini dari jauh-jauh hari, jika dirasa pengunjung kurang puas maka aku akan menghiburnya. Tapi ternyata di luar ekspektasiku. Tidak ada pengunjung yang merasa terhibur, mereka semua diam seribu bahasa dengan muka datar dan cueknya. Tapi tenang saja, aku sudah memikirkan berbagai kemungkinan yang dapat terjadi, sehingga aku menyiapkan rencana kedua yaitu aku mengundang warga sekitar untuk turut ikut serta meramaikan Pesta Kemerdekaan ini. Banyak dari mereka yang membawa tumpeng nasi kuning dan berbagai makanan daerah khas Arunika. Sorak sorai warga setempat membuat acara semakin meriah, banyak warga yang mengajak turis-turis tersebut untuk ikut bersenang-senang. Namun tetap saja muka mereka ditekuk, nampak tak suka dengan acara sambutan ini. Ketidaksenangan terpancar dengan jelas melalui gurat wajah mereka. Aku tak paham lagi kenapa banyak yang tidak menyukainya, padahal aku berusaha keras membuat mereka terhibur.

Aku terduduk lemas lesu dibawah panggung. Sudah tidak ada harapan lagi, ku yakin mereka tidak menyukainya dan akan segera check out keesokan harinya. Kenapa hari yang seharusnya menjadi gembira untuk menyambut kemerdekaan malah berakhir seperti ini. Gagal sudah semua rencanaku. Di saat aku sedang menahan rasa sedih, muncul sesosok pria berbadan besar dan kekar sambil membawa dua gelas bir. Ia menyodorkan salah satu gelasnya padaku. Sambil menghiburku ia mengatakan.

“Tenanglah kawan, kau tak usah terlalu larut dalam kesedihan. Ayo minum bir bersamaku. Kita nikmati malam ini dengan suka cita.”

“Ting...” Suara dentingan gelas berbunyi di tengah keramaian yang kacau ini. Ku minum bir ini dalam sekali teguk sampai habis hingga aku cegukan. Lalu ku tanya pada pria berotot kekar di sebelahku yang mengajak minum ini, tak lain tak bukan adalah sahabatku sendiri dari Luksemburg yaitu Frankeinstein. Ia sudah tinggal di Arunika selama 5 tahun sehingga bahasanya sudah fasih dan mudah dipahami. Tak perlu lagi ia menggunakan bahasa Inggris, sehingga aku bisa mengerti tiap kata demi kata ucapannya.

“Heyy Frank...” panggilku dengan nada sedikit mabuk.

“Hmm...?” Ia mulai menoleh ke arahku.

“Apakah aku salah mengadakan acara semacam ini?”

“Apa maksudmu kawan?” Sambil menyenggol tanganku berusaha untuk bergurau.

“Entahlah, aku merasa kalo pesta kali ini gagal total. Aku tak mengerti mengapa hari yang seharusnya istimewa untuk merayakan kemerdekaan, merayakan kebebasan kita malah jadi seperti ini.” Aku mulai mengeluh pada Frank.

“Kita? Sejak kapan hari kemerdekaan ini menjadi milik kita? Bukankah kita berbeda negara kawan? Meski aku sudah 5 tahun di sini bukan berarti aku melupakan tanah airku sendiri yaitu Luksemburg.” Frank menatapku dengan keheranan

“Tapi apa salahnya merayakan kemerdekaan bersama-sama meski beda negara? Bukankah tak jauh berbeda dengan merayakan hari-hari besar lainnya?” Mukaku mulai menyodor ke depan berusaha mendapatkan jawaban dari Frank.

“Sepertinya kau masih belum paham kawan. Menurutmu apa makna kemerdekaan yang sesungguhnya?”

Lagi-lagi pertanyaan itu. Dengan cepat langsung ku balas “Tentu saja kebebasan.”

“Iyap betul sekali... Kemerdekaan adalah kebebasan. Tapi apa makna kebebasan menurutmu?”

“Tch...” Desakku dengan sedikit sebal. Kenapa orang-orang selalu menanyakan pertanyaan yang sama, aku sudah muak. “Tentu saja bebas ya bebas, memang ada arti lain dari bebas?”

“Oke, kalau begitu aku ganti pertanyaannya. Apa batas kebebasan tiap orang?”

“Batas? Kenapa pula tiba-tiba bahas batas? Bukankah kita sedang membahas kebebasan?”

“Apakah menurutmu kebebasan tidak memiliki batas kawanku?”

“Tentu saja, sejak kita merdeka artinya kita bebas. Jika kita masih dibatasi artinya kita belum merdeka dan masih dijajah.”

“Kau salah besar kawanku. Kebebasan yang sesungguhnya pasti memiliki batas. Manusia selalu terikat dengan batas agar mereka tidak melakukan sesuatu yang kelewatan. Coba bayangkan jika seandainya dunia berjalan seperti yang kau katakan. Bebas sebebas-bebasnya tanpa ada batasan, kita ambil contoh Restoran Keluarga ini. Semisal salah satu staff dapurmu, katakanlah Arhan tiba-tiba mogok kerja dan mencuri banyak persediaan di dapur. Bagaimana responmu?”

“Tentu saja aku akan marah, karena dia mengambil barang yang bukan haknya tanpa izin dan berbuat seenaknya.”

“Tapi dari sudut pandang Arhan yang menganggap bahwa dunia ini sebebas-bebasnya tanpa batas, tak masalah dong mau ia kerja atau tidak. Mau ia mencuri atau tidak itu terserah dia karena dia bebas. Oleh karena itu aku bilang tak ada kebebasan yang benar-benar bebas. Pasti semuanya akan terikat dengan aturan dan dibatasi agar tidak kelewatan dan tidak berbuat seenaknya.”

“Aku masih tak paham Frank.”

“Artinya batas dari kebebasan adalah tidak merenggut kebebasan orang lain. Itulah yang dirasakan oleh pengunjungmu beberapa waktu lalu. Mereka merasa kebebasan mereka telah direnggut oleh dirimu. Mereka yang ingin pergi meninggalkan restoran ini malah kau cegat dan memaksa mereka untuk tetap duduk di tempat. Kau terlalu egois kawanku. Kau tak bisa melarang mereka atau merenggut kebebasan mereka, termasuk memaksakan kehendak.”

“Tapi aku hanya ingin mengenalkan budaya-budaya di Arunika. Tak lebih dari itu. Aku ingin mereka lebih mengenal dan merasa terhibur. Apakah aku salah?”

“Tentu saja tidak salah, niatmu sudah baik. Tapi kau kurang peka terhadap keadaan sekitar.”

“Hahh?? Bagaimana mungkin aku tidak peka dengan situasi di sekelilingku? Aku telah menjalankan bisnis restoran ini selama bertahun-tahun dan bertemu banyak orang dari berbagai macam negara. Bagaimana dengan entengnya kau mengatakan begitu Frank?”

“Apakah kau ingat acara apa yang selalu sukses di restoranmu? Bukankah semuanya hanya tradisi-tradisi barat yang kental dan dikenal baik oleh pelangganmu seperti hari Natal, Valentine, atau pun Halloween? Itu karena hari-hari besar tersebut sudah sangat familiar di negara asal mereka sehingga mereka menjadi nyaman dan senang.”

“Lalu apa salahnya jika aku mengenalkan budayaku agar mereka juga kenal? Bukankah mereka setidaknya bisa saling menghargai perbedaan budaya?”

“Apakah kau lupa kalau mereka berasal dari latar belakang yang berbeda-beda? Kau tidak bisa memaksa mereka untuk menikmati budayamu kawan. Jika mereka tidak mau, maka biarlah. Biarkan mereka pergi, jangan halau mereka, jangan halangi mereka. Karena itu sama saja kau merenggut hak dan kebebasan mereka. Tidak semuanya harus berjalan sesuai rencanamu. Terkadang ada beberapa peristiwa yang diluar kendalimu dan itu merupakan hal yang wajar-wajar saja. Jadi tenanglah jangan terlalu bersedih hanya karena beberapa pengunjung yang pergi. Mungkin saja di hari lain akan datang jauh lebih banyak pengunjung. Okeyy? Cerialah kawanku, ayo tersenyum.” Frank mengatakan begitu sambil tersenyum lebar dan mengisi gelas birku yang kosong.

“Jadi begitu ya Frank... Ternyata aku terlalu egois dan memaksakan kehendakku sehingga merenggut kebebasan orang lain. Baiklah, terimakasih Frank.”

“Dengan senang hati kawanku, mari kita lupakan sejenak dengan satu gelas terakhir ini. Cheers...!!”

Aku belajar banyak dari Frank. Mungkin ini yang coba dikatakan oleh Ahmad. Akhirnya pertanyaan anehnya kala itu telah terjawab.


Komentar