INSIGHT: Teknologi, Kebiasaan Belajar, dan Dukungan Sosial sebagai Penopang Resiliensi Akademik Mahasiswa”


Perkembangan teknologi digital membawa banyak perubahan bagi mahasiswa, mulai dari akses informasi, materi kuliah, hingga berbagai platform pendukung pembelajaran. Mahasiswa dituntut untuk mampu beradaptasi dengan berbagai perubahan, mulai dari cara belajar, penggunaan teknologi, hingga membangun jejaring sosial. Tantangan seperti distraksi digital, beban akademik, dan kebutuhan menjaga keseimbangan hidup membuat resiliensi akademik menjadi salah satu kunci keberhasilan studi.

Mini riset ini disusun dengan tujuan untuk mengetahui tingkat resiliensi akademik mahasiswa FISIP di era digital. Fokus penelitian diarahkan pada tiga aspek utama, yaitu penggunaan teknologi, kebiasaan belajar, dan dukungan sosial, yang digali melalui survei yang telah dilakukan. Pertanyaan yang disusun mencakup 10 pertanyaan dengan hasil survei sebagai berikut:


Persebaran Responden

Survei ini dilakukan dengan menggunakan metode voluntary sampling yang diisi oleh 77 responden mahasiswa FISIP Unsoed angkatan 2022-2025. Berdasarkan survei mini riset yang dilakukan, hasilnya diketahui bahwa sebanyak 20 responden merupakan mahasiswa FISIP Unsoed angkatan 2023. Dari 77 responden memiliki variasi jawaban yang berbeda.  


Frekuensi mahasiswa menggunakan teknologi seperti laptop atau smartphone untuk belajar

Sebanyak 48 responden atau 62,3% mahasiswa FISIP Unsoed dari 77 responden yang mengisi survei menunjukan jawaban bahwa mereka selalu menggunakan teknologi digital dalam kegiatan belajar mereka. Sementara, 26 responden atau 33,8% responden menyatakan mereka sering menggunakan teknologi digital. Hanya 2 responden atau 2,6% responden yang memilih kadang-kadang, dan 1 responden atau 1,3% yang memilih jarang. Hal ini menunjukan bahwa mayoritas mahasiswa selalu menggunakan teknologi digital dalam kegiatan belajar yang dilakukan. 


Pengaruh teknologi dalam membantu meningkatkan hasil belajar mahasiswa

Kebanyakan dari responden yaitu, 59 responden atau 76,6% merasa teknologi sangat membantu hasil belajar mereka. Sisanya, sebanyak 18 responden atau 23,4% menyatakan bahwa teknologi cukup membantu dalam menentukan hasil belajar mereka. Hal ini menunjukan bahwa penggunaan teknologi memiliki kontribusi besar dalam membantu meningkatkan hasil belajar mahasiswa. Tidak ada responden yang merasa tidak terbantu dengan adanya teknologi. 


Metode belajar yang dipakai mahasiswa

Survei yang dilakukan menunjukan hasil preferensi metode belajar, 36,4% atau 28 responden memilih metode belajar digital dengan membaca e-book atau jurnal online. Disisi lain, 28 responden atau 36,4% memilih untuk menggunakan aplikasi, AI, atau catatan digital dalam metode belajarnya. Sementara itu, 16 responden atau 20,8% memilih menonton video pembelajaran. Dan sisanya memilih metode belajar lainya. Hal ini menunjukan bahwa metode belajar mahasiswa dalam memanfaatkan media digital beragam dan memiliki preferensi masing-masing. 


Kendala yang dialami saat belajar dengan teknologi

Sebanyak 50 responden atau 64,9% memilih gangguan fokus sebagai kendala utama yang dialami saat melaksanakan kegiatan belajar dengan menggunakan teknologi. 12 responden atau 25,6% lainya memilih koneksi internet sebagai kendala yang dialami saat belajar dengan teknologi. Sementara itu, 8 responden atau 10,4% menyatakan bahwa kendala dalam belajar dengan teknologi adalah motivasi belajarnya menurun. Kemudian, sebanyak 6 atau 7,8% responden memilih kurangnya alat/prasarana. Sisanya yaitu 1 responden memilih semua menjadi kendala. Hal ini memperlihatkan bahwa dalam pemanfaatan teknologi dalam kegiatan belajar masih terdapat kendala yang menyertainya. 


Pemanfaatan teknologi dalam menghadapi kendala akademik

hasil survei menunjukkan 51,9% responden atau sejumlah 40 responden sering memanfaatkan teknologi digital dalam menghadapi kendala akademik yang dialaminya, 26% diantaranya atau 20 orang responden menyatakan selalu melakukanya. Sementara sisanya, yaitu sebanyak 18,2% atau 14 responden memilih frekuensi kadang-kadang dan 3,9% atau 3 responden memilih jarang. Dapat dilihat bahwa dari sejumlah 77 responden tidak ada yang tidak pernah menggunakan teknologi dalam menyelesaikan kendala akademik. Hal ini menunjukan bahwa mahasiswa dan teknologi saling hidup berdampingan. 


Kemudahan mahasiswa dalam mendapatkan bantuan akademik melalui media digital dari tema, dosen, atau keluarga. 

Dalam menghadapi kendala akademik mahasiswa mendapatkan kemudahan bantuan atau dukungan akademik melalui media digital yang disalurkan oleh relasi terdekatnya. Dari hasil survei sebanyak 48,1% atau 37 responden memilih parameter mudah dalam menerima bantuan dan dukungan melalui media digital. Di sisi lain, 29,9% atau 23 responden merasa cukup mudah dalam menerima bantuan akademik melalui medi adigital, 18,2% atau 14 responden memilih sangat mudah dengan aksesnya. Sementara itu, 2,6% atau 2 responden merasa sulit dalam mendapatkan dukungan tersebut, dan 1 lainnya atau 1,3% menyatakan sangat sulit. Hal ini menunjukan bahwa teknologi tidak selalu membawa kemudahan bagi penggunanya, banyak sisi lain dari teknologi digital yang masih belum menjadi akses yang mempermudah mahasiswa dalam memperoleh dukungan.


Strategi mahasiswa untuk tetap termotivasi saat menghadapi masalah belajar

Dalam menghadapi masalah belajar mahasiswa sebagai responden tentu memiliki strategi yang memotivasi langkah yang mereka ambil dalam menyelesaikan masalah akademik. Berdasarkan hasil survei, 50,6% atau sebanyak 39 responden menyatakan mereka memilih untuk istirahat sejenak dan kembali berusaha jika sudah merasa lebih baik. 39% atau sebanyak 30 responden memilih untuk mengingat tujuan dan impian mereka sebagai motivasi untuk terus berusaha dan mengatasi masalah akademik yang ada. 9,1% atau 7 responden mengatasi masalah akademik dengan mencari dukungan teman atau keluarga. Sementara itu, 1,3% atau 1 responden memilih untuk mengabaikan masalah dan tetap menjalankan kegiatan akademiknya. Hal ini menunjukan bahwa mahasiswa memiliki caranya masing-masing dalam menghadapi masalah akademik yang ada di kampus. 


Preferensi diskusi mahasiswa

Diskusi tidak dapat dipisahkan dari kehidupan akademik mahasiswa. Telah terjadi pergeseran cara diskusi yang dilakukan mahasiswa yang tidak hanya dapat dilakukan melalui tatap muka saja, melainkan dapat pula dilakukan secara daring. Hasil survei mini riset menunjukan bahwa, 53,2% atau 41 responden memilih netral artinya mereka merasa kedua cara diskusi tersebut dapat dilakukan dengan nyaman. 35,1 atau 27 responden menyatakan tidak setuju bahwa diskusi daring lebih nyaman dibandingkan diskusi secara tatap muka. 9,1% atau 7 responden menyatakan sangat tidak setuju akan pernyataan tersebut. Sisanya, 2,6% atau 2 responden menyatakan setuju dengan pernyataan tersebut. 


Pengaruh dukungan sosial dalam membantu bangkit dari tekanan

Dalam menghadapi tekanan akademik perean dukungan sosial dalam membantu menghadapi masalah akademik setiap mahasiswa tentu berbeda-beda. Berdasarkan hasil survei mini riset yang dilakukan, 40,3% atau 31 responden merasa dukungan sosial ini sangat berpengaruh terhadap motivasi mereka menghadapi masalah akademik. 29,9% atau 23 responden lain merasa dukungan sosial cukup berpengaruh, 23,4% atau 18 responden merasa dukungan sosial ini cukup berpengaruh. Sisanya, 6,5% atau 5 orang responden merasa dukungan sosial ini kurang berpengaruh terhadap motivasi mereka menghadapi tekanan akademik. 


Respon mahasiswa saat mengalami kegagalan akademik

Mahasiswa yang menghadapi kegagalan akademik memiliki respon yang berbeda ketika melewatinya. Dari hasil survei menunjukan bahwa 58,4% atau 45 responden merespon kegagalan akademik dengan mengubah strategi belajar dan berusaha lebih keras. 24,7% atau 19 responden memilih untuk berhenti sejenak dan mencoba kembali ketika sudah merasa lebih baik. Sisanya, 16,9% atau 13 responden memilih untuk mencari bantuan kepada teman maupun dosen. 


Teori yang dibawakan

Teori ruang sosial George Simmel melihat ruang sosial bukan hanya sebagai tempat fisik, namun juga sebagai arena interaksi dinamis antara individu yang terus-menerus membentuk pola hubungan sosial dan pengalaman bersama. Simmel menekankan bahwa setiap individu membawa energi psikis ke dalam interaksi, yang dapat memperkuat atau melemahkan kondisi mental dan emosional mereka tergantung pada kualitas hubungan tersebut. Dalam ruang sosial, interaksi yang positif dan suportif bisa membangun resiliensi, memperkuat rasa percaya diri, dan menciptakan solidaritas. Sebaliknya, jika ruang sosial dipenuhi ketegangan, konflik, atau isolasi, energi psikis bisa terkuras, melemahkan ketahanan individu. Sebaliknya, jika interaksi di ruang sosial penuh tekanan atau konflik, energi tersebut bisa melemahkan ketahanan individu. Jadi, ruang sosial adalah ruang simbolik yang memiliki peran penting dalam menentukan apakah seseorang mampu tumbuh dan berkembang atau justru berdampak negatif oleh lingkungan sosialnya dalam menghadapi berbagai tekanan hidup.

Selain itu, Simmel juga menyoroti pentingnya aspek simbolik ruang sosial bagaimana makna, norma, dan ekspektasi sosial membentuk cara individu berinteraksi dan merasakan ruang tersebut. Jadi, ruang sosial bukan hanya sekadar ruang fisik, melainkan ruang sosial-psikologis yang menentukan bagaimana seseorang beradaptasi dan berkembang dalam tekanan hidup sehari-hari.

Berdasarkan hasil survei, dapat disimpulkan bahwa tingkat resiliensi akademik mahasiswa FISIP di era digital dipengaruhi oleh kombinasi antara pemanfaatan teknologi, kebiasaan belajar, dan dukungan sosial. Teknologi terbukti mempermudah akses pembelajaran, namun juga menghadirkan tantangan berupa distraksi digital yang harus dikelola dengan baik. Kebiasaan belajar yang konsisten berperan penting dalam menjaga ketahanan akademik, sementara dukungan sosial dari keluarga, teman, maupun lingkungan kampus menjadi faktor pendukung yang tidak kalah penting. Secara umum, mahasiswa menunjukkan kemampuan beradaptasi yang cukup baik terhadap dinamika perkuliahan di era digital, meskipun masih diperlukan strategi yang lebih terarah untuk meningkatkan konsistensi belajar dan meminimalkan dampak negatif dari penggunaan teknologi.


Referensi:

https://www.kompasiana.com/silviastevani3080/633207764addee3cb8326672/pemikiran-sosiologi-ruang-sosial-georg-simmel

Komentar