Review Film "Autobiography"

 Autobiography: Ketika Kepatuhan Menjadi Perlawanan 

Reviewer : Reva Akhila


Politik Indonesia pernah diterpa isu yang kompleks dan berdampak signifikan terhadap dinamika pemerintah serta kehidupan masyarakat karena peran militernya, terutama selama era Orde Baru (Paryanto Paryanto, 2025). Film ‘Autobiography’ karya Makbul Mubarak produksi tahun 2021 merupakan film festival yang mengangkat isu kekuasaan militer. Kekuasaan militer seringkali menuntut adanya kepatuhan dari masyarakat karena adanya perintah intimidasi dari pihak yang berkuasa. Hal tersebut tercermin dalam film ‘Autobiography’ dengan salah satu toko utama, Rakib manusia dinamis. Refleksi ketika kepatuhan menjadi perlawanan, Rakib yang dinamis menjadi buktinya.


Sinopsis : Rasa Bersalah Mendobrag Kepatuhan

 Rakib, seorang anak muda biasa sebelum ayahnya masuk penjara. Perjalanannya Rakib baru dimulai ketika rumah kosong yang ia tinggali kedatangan tuan rumahnya, pensiunan Jendral bernama Purnawinata.

Kedatangannya yang memunculkan tanda tanya serta situasi horor yang mengintimidasi Rakib sekaligus warga desa. Ternyata gelar Jendral tak cukup bagi purnawinata, ia masih haus akan kekuasaan dan kehormatan. Pencalonannya sebagai bupati di wilayah tersebut didukung warga termasuk Rakib, tetapi tidak dengan seorang anak SMA. Agus seorang anak SMA yang kesal karena keluarganya menjadi lelucon saat kampanye sang Jendral. Sebenarnya bukan itu alasan utama Agus, tetapi permintaan ibunya yang disepelakan dan malah terkena intimidasi oleh Jendral Purnawinata.

 Masalah listrik di desa tersebut membuat bahan kampanye sang Jendral. Rencana dibangunnya PLTU dengan merampas lahan milik warga, tetap disambut baik warga setempat tetapi tidak dengan Agus dan keluarganya. Respon sang Jendral terhadap permintaan ibu Agus, membuat otak Rakib berputar memikirkan perkataan sang Jendral.

Rantai tak terputus majikan dan bawahan, seperti kedatangan Jendral Purnawinata menemui ayah Rakib di penjara. Kesetiaan keluarga Rakib ternyata memunculkan ketidak enakan ayah Rakib terkait bantuan tentang nasib lahannya. Sehingga ayah Rakib lebih memilih mendekam dalam penjara daripada meminta bantuan dari sang Jendral.

 Bersikap bagaikan ayah pengganti untuk Rakib, sang Jendral menjadi motivator Rakib walaupun intimidasinya membuat pula kepatuhan diri Rakib. Wejangan sekilas dari sang Jendral kepada Rakib, menjadikan alasan Rakib malihat sang Jendral sebagai role model. Tetapi hal tersebut mulai runtuh ketika sang Jendral marah saat mengetahui ada yang merusak baliho miliknya. Tekanan dari sang Jendral membuat Rakib berusaha mencari orangnya. Agus, anak SMA yang ternyata adalah pelaku perusak baliho sang Jendral. Berkaca dari perilaku sang Jendral, Rakib memaksa Agus menemui atasannya itu. Pertemuan Agus ternyata membawa petaka bagi Rakib sendiri. Hal tak terduga terjadi pada Agus karena ulah sang Jendral. Tidurnya Agus untuk selamanya, memunculkan rasa bersalah dalam diri Rakib serta menjadikannya melarikan diri dari rumah majikannya. Walaupun usahanya sia-sia, tetapi kini Rakib sadar bahwa kepatuhannya selama ini dapat membuat dirinya terjebak dalam situasi yang salah. Perlawanan Rakib yang tidak terduga seolah menyampaikan pesan bahwa manusia itu dinamis dan dapat melawan hal yang salah, walaupun dirinya sediri juga melakukan kesalahan. Pidato Rakib dalam pemakaman sang Jendral masih menjadi misteri isinya.


Kepatuhan sebagai Mekanisme Sosial

 Karakter Rakib yang patuh pada perintah sang Jendral, sangat mencerminkan masyarakat Indonesia pada era Orde Baru. Kepatuhan tersebut tidak didasari oleh keinginan hati tetapi keterpaksaan karena merasa terancam. Latar waktu tahun 2017, seolah-olah mencerminkan bahwa otoritas militer tidak pernah hilang hingga zaman sekarang. Otoritas adalah salah satu istilah yang sering digunakan oleh Weber, menunjukkan kewibawaan mereka yang mengeluarkan perintah, alih-alih menekankan asimetri hubungan kekuasaan antara mereka yang mendominasi dan mereka yang tunduk pada dominasi (Szelenyi, 2016). Teori dominasi Weber membuktikan bahwa Rakib patuh karena adanya otoritas dari sang Jendral. Bahkan Rakib tidak punya kendali atas tubuhnya yang dibuktikan dengan scene sang Jendral yang memandikan Rakib, walaupun Rakib sudah menolak. Film ini sangat bagus dalam menciptakan karakter sang Jendral yang walapun dia hanya diam maupun berbicara dengan suara pelan, tetapi aura intimidasinya sangat kuat.


Kekuasaan yang Korosif

 Kekuasaan seringkali membutakan seseorang, seperti Jendral Purnawinata. Perubahan sikap sesuai situasi yang ada membuat Rakib merasa bingung. Rakib yang sempat terpengaruh tindakan sang Jendral karena sang Jendral melakukan kekuasaan yang korosif. Intimidasi, kasih sayang, rasa peduli serta otoritas yang dilakukan sang Jendral membuat Rakib percaya walaupun akhirnya Rakib sadar bahwa tindakannya salah. Film ini menunjukan bahwa manusia itu bersifat dinamis, karakter Rakib menunjukan bahwa anak muda masih memerlukan adanya bimbingan bukan perintah.


Perlawanan sebagai Bentuk Emansipasi

 Refleksi dari ketakutan masa kecil Makbul Mubarak, film ‘Autobiogrphy’ menjadi bentuk perlawanan terhadap dominasi militer. Karakter Rakib yang berubah-ubah, menjadikan penonton kepo dengan kelanjutan sikapnya. Scene klimaks dimana Rakib berani mengambil suatu tindakan yang tidak diduga, sehingga mencerminkan perlawanan yang menegangkan. Walaupun alurnya sedikit lambat, tetapi plot twist di dalam filmnya membuat takjub sampai memenangkan banyak penghargaan.


Dinamika Karakter Rakib

 Karakter Rakib dibuat sangat dinamis sesuai dengan tindakan sang Jendral. Awalnya ia hanya patuh karena intimidasi sang Jendral. Lalu selanjutnya kepatuhan tersebut tidak semata-mata karena sikap otoritas sang Jendral, tetapi juga karena perhatiaan sang Jendral kepada Rakib. Sampai pada akhirnya kepatuhan tersebut berubah menjadi perlawanan karena tindakan sang Jendral yang salah dan merugikan orang lain, bahkan tindakan sang Jendral bisa disebut tindak kejahatan. Makbul Mubarak sangat hati-hati dalam membuat karakter Rakib, sehingga sebagai penonton ikut melihat perubahan sikap Rakib karena tindakan manipulasi sang Jendral.


Aspek sinematik dan Estetika

 Pengambilan sudut gambar yang pas, membuat film lebih terasa hidup. Suara dan musik tambahan juga membuat atsmofir tegang bertambah terutama sikap intimidasi dan rasa ketakutan Rakib. Pencahayaan yang minim dalam adegan klimaks, menambah sikap was-was yang dirasakan penonton. Yang membuat film ini pecah adalah akting pemeran Jendral dan Rakib.


Kekurangan

 Secara keseluruhan film ini sudah sangat baik, tetapi masih ada sedikit hal yang terlihat oleh orang awam. Seseorang yang kurang suka dengan pesan tersirat dan juga pengulangan adegan akan merasa alur film ini lambat, serta akan kurang paham maksud isi film ini. Selain itu, film ini hanya fokus pada karakter utana sehingga kurang memperhatikan karakter pendukung. Karakter pendukung disini kurang diperhatikan sehingga tidak ada pengembangan karakter.


Kesimpulan

 Film ‘Autobiography’ berhasil membuat penonton ikut merasakan tansformasi atau pengembangan karakter Rakib. Pengembangan karakter Rakib ini sebagai simbol perlawanan terhadap ketidakadilan yang sedang terjadi. Film ini sangat cocok ditonton oleh seseorang yang suka pesan tersirat dan ending yang menggantung. Keadaan sosial, psikologi Rakib dan perlawanan serta kritik terhadap kekuasaan membuat kombinasi yang bagus sehingga membuat penasaran penonton. Dialog intimidasi sang Jendral dan juga scene klimaks membuat penonton ikut merasakan ketegangan yang terjadi dalam film tersebut.


Kaitannya dengan Konsep Negara Hukum dan HAM

Terikat dan Memaksa

Nilai-nilai Pancasila merupakan falsafah serta dasar negara yang menjadi landasan Negara Hukum Indonesia (hadi, 2022). Film ‘Autobiogrphy’ menunjukan bahwa Indonesia merupakan negara hukum yang memiliki banyak aturan. Hal tersebut terlihat dalam scene ayah Rakib yang masuk penjara. Walaupun ayah Rakib melakukan pencurian dengan alasan mempertahankan hak sepetak tanahnya, tetapi hukum tetap memandang ayah Ralib bersalah. Hal tersebut juga mencerminkan hukum yang bersifat memaksa, dibuktikan bahwa ayah Rakib yang terpaksa masuk penjara.


Hak Asasi Manusia

 HAM menurut Mariam Budiardjo, merupakan hak yang dimiliki oleh manusia dan telah telah diperoleh serta dibawanya bersamaan dengan kelahiran dan kehadirannya dalam hidup masyarakat (Rifa’i, 2024). Salah satu hak asasi manusia adalah hak hidup. Manusia memiliki hak hidup atas dirinya, berkebalikan dengan film ini. Tokoh Agus dalam film ini, menjadi salah satu tokoh yang tidak mendapatkan hak hidup. Tokoh Agus menjadi bukti bahwa direnggut hidupnya atas dirinya, tetapi tetap belum memperoleh keadilaan sampai ia menghembuskan nafas terakhirnya. Agus hanyalah seorang anak SMA yang keluarganya tidak mempunyai power untuk mencari keadilan.

 Jika dilihat dari sisi sang Jendral, ia sudah melanggar hak asasi manusia. Sang Jendral sudah merampas hak hidup seorang anak SMA. Tetapi karna sang Jendral mempunyai power yang besar, ia tetap aman dari ancaman hukum. Kepandaiaanya dalam menyembunyikan kejahatannya serta karakternya yang bermuka dua, membuat tokoh Rakib menjadi merasa harus menegakan keadilan. Tindakan Rakib kepada sang Jendral seolah menggambarkan bahwa keadilan harus ditegakan asal ada keberanian dalam diri. Rasanya pepatah “nyawa dibalas nyawa” pas menggambarkan film ‘Autobiography.



DAFTAR PUSTAKA

hadi, f. (2022). EGARA HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA DI INDONESIA The State of Law and Human Rights in Indonesia. WIJAYA PUTRA LAW REVIEW –, 170-188.

Paryanto Paryanto, I. L. (2025). MILITERISME DALAM POLITIK INDONESIA: SEJARAH RESTROSPEKTIF ORDE BARU DAN TANTANGAN DEMOKRASI. Jurnal Imu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jambi (JISIP-UNJA), 9, 26-37.

Rifa’i, A. H. (2024). UNIVERSALITAS DAN PARTIKULARITAS HAK ASASI MANUSIA DALAM UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1974 TENTANG PERKAWINAN. Jurnal Mahasiswa, 7-14.

Szelenyi, I. (2016). Weber’s theory of domination and post-communist capitalisms. Theor Soc, 1-24.


Komentar