Karya: Akmal Nabil Farras
Musim semi kala itu sungguh terlihat sangat indah. Nampak bunga sakura mulai bermekaran menambah kesan asri nan elok pada taman bermain ini. Aku tengah duduk sendirian di tengah hamparan pohon sakura yang daunnya mulai berguguran. Terlihat indah namun sangat menyedihkan karena hanya tumbuh setahun sekali pada musim semi, lalu menghilang begitu saja. Sama seperti kondisi hatiku saat ini. Ia datang pada musim semi, membawa semua kebahagiaan dan harapan yang ku nantikan selama ini. Namun hanya sesaat, hanya sebentar ia singgah di hidupku. Rasa senang dan bahagia yang ku dapatkan segera dihancurkan oleh rasa sakit yang teramat mendalam ini. Mengapa kau hanya singgah sebentar dan pergi meninggalkan luka ini Zidan?
Aku tengah bermonolog dalam hati. Tentu saja tidak ada yang mendengar isi hatiku saat ini. Tanpa sadar setetes air mataku mengenai telapak tanganku yang saat ini sedang duduk bersila di taman bermain. Hanya bermodalkan tikar dan bekal yang aku buat sendiri sebelum berangkat, aku berlibur untuk camping sejenak di bawah bunga sakura yang indah ini. Berharap suasana hatiku bisa membaik dan kembali bersemangat lagi. Namun yang terjadi malah aku mengingat kenangan lama itu. Kenangan bersama Zidan satu tahun lalu yang benar-benar mengubah hidupku saat ini.
***
Sore itu hujan deras menyambar seluruh kota. Orang-orang menjadi panik dan berlarian mencari tempat teduh. Ada yang sibuk mengoceh telat rapat karena hujan, ada yang mengeluh telat pesawat, dan bahkan ada anak-anak yang senang begitu riang ketika melihat hujan turun. Berbeda-beda cara orang mengartikan hujan. Ada yang sedih, kecewa, marah, bahkan senang. Mungkin memang benar bahwa semakin dewasa kita akan semakin membenci hujan, karena ada banyak aktivitas yang tak bisa dilakukan jika kondisi cuaca sedang hujan. Namun aku tidak begitu, jujur saja aku tidak memiliki ketertarikan atau kebencian terhadap hujan. Aku menganggap hujan sebagai fenomena alam yang biasa-biasa saja dan bersikap netral. Aku tak pernah menyalahkan hujan dan tak pernah pula bahagia atas hujan. Tapi hari ini berbeda.
Aku sedang menunggu datangnya bis kota di halte bis dekat kantorku. Meski bis belum datang, namun halte ini sudah ramai dipenuhi berbagai orang dengan keperluan yang berbeda-beda pula. Datangnya hujan yang tak diundang ini membuat sebagian orang merasa kesal dan marah. Tapi aku justru hari ini merasa sangat bahagia, bukan bahagia karena hujan tetapi bahagia karena disebelahku ada sosok lelaki yang ku sukai selama ini. Dia adalah Zidan.
Awal mula aku bisa kenal karena secara kebetulan kita satu divisi di kantor. Aku bekerja di sebuah perusahaan pemasaran produk makanan dan aku ditempatkan di bagian divisi promosi. Tugasku adalah untuk mempromosikan berbagai makanan yang ingin di pasarkan ke toko-toko, minimarket, atau supermarket. Sudah menjadi rutinitasku berkeliling ke tiap sudut kota menawarkan produk untuk di jajalkan.
Suatu ketika aku dimintai oleh atasanku untuk menawarkan produk bersama seseorang. Ya betul. Orang itu adalah Zidan. Lelaki bertubuh besar, tinggi, berotot, dan terlihat sangat bersemangat. Nampak sekali dari cara dia bicara yang begitu enerjik. Tiap jam, tiap menit, bahkan tiap detik mulutnya selalu berceloteh membicarakan hal-hal tak penting. Aku hanya merespon dan menanggapi dengan cuek dan secukupnya. Namun ia sepertinya tak kenal lelah dan tak pernah capai. Selalu saja sibuk bercerita dengan semangatnya yang begitu membara.
Berkat keaktifan dan bakat bicara Zidan, kami mendapat banyak keuntungan hari ini. Penjualan bisa dibilang sukses berkat Zidan yang menawarkan produk dengan penuh percaya diri kepada tiap pelanggan. Mendapat apresiasi dari atasan merupakan suatu yang membanggakan. Aku sangat senang akan hal itu.
Beberapa minggu setelahnya aku terus bekerja bersama Zidan. Perlahan aku mulai tidak terganggu dengan celotehan dia, justru sekarang aku menjadi nyaman di dekatnya yang terus berbicara sepanjang waktu. Jika ia tiba-tiba terdiam atau berhenti bicara, aku malah akan khawatir dan bertanya-tanya.
Tak terasa waktu sudah berlalu 6 bulan sejak Zidan bekerja denganku. Waktu berlalu begitu cepat, namun juga sangat singkat. Aku rasa baru saja kemarin mengenal Zidan, namun kini ia sudah hendak pergi di pindahkan ke divisi lain. Prestasinya selama 6 bulan terakhir membuat banyak keuntungan bagi perusahaan, sahamnya juga ikutan naik berkat kegigihan Zidan dalam bekerja. Sehingga ia di promosikan naik jabatan yang lebih pantas untuknya, serta gaji yang tinggi juga.
‘Tentu saja orang sepertinya pasti berhak mendapatkan yang layak. Aku tak boleh egois atau mengekangnya. Tak mungkin juga Zidan selamanya bekerja denganku mempromosikan barang keliling kota yang jelas-jelas begitu melelahkan.’ Begitu ucapku dalam hati.
Saat ini kita berdua sedang merayakan kenaikan jabatan Zidan dan sekaligus perpisahan terakhir. Jadi aku mengajaknya ke taman bermain di pusat kota. Kebetulan sekarang sedang musim semi, sehingga bunga sakura bermekaran sangat indah menghiasi taman bermain ini.
Zidan menerima ajakanku dengan senang hati, dia pasti sangat senang menerima kue dan coklat buatanku yang ku curahkan sekuat tenaga dan segenap hati untuk membuatnya. Ku pikir begitu. Tapi hari ini Zidan sangat berbeda dari biasanya. Tak ada ekspresi senang dalam raut wajahnya. Hanya menampilkan muka datar tak berkspresi. Sangat jarang sekali ia seperti ini. Padahal biasanya dia sangat excited dan terus mengoceh tanpa henti. Namun sepanjang hari ini Zidan terus terdiam tanpa berbicara sepatah kata pun.
“Heyy Zidan, ada apa? kenapa hari ini kau begitu murung? bukankah harusnya ini hari bahagia karena kau telah naik jabatan?”
“Maaf sudah membuatmu khawatir Li. Aku sedang banyak pikiran belakangan ini. Maaf kalau aku tidak seperti ‘Zidan’ yang seperti biasanya.”
“It’s okayy Zid... jika ada masalah, aku siap untuk mendengarkan. Itu pun jika kau tak keberatan.”
Zidan mulai menarik napas panjang dan menghembuskan secara perlahan. Kemudian ia membuka mulutnya. “Li...”
“Yaa?” jawabku keheranan
“Aku tak tau harus mulai dari mana, tapi aku rasa kamu harus mengetahuinya.”
“Ada apa sebenarnya Zid? ceritakanlah.”
“Sebenarnya bulan depan...” ia tercekat dengan ucapannya sendiri, seolah ada sesuatu yang menahannya.
“Kenapa Zid? ada apa dengan bulan depan?”
“Bulan depan sebenarnya aku akan menikah...”
Hancur sudah hatiku mendengar kalimat itu terucap langsung dari mulut Zidan. Selama ini aku sudah mulai nyaman dan rasa cintaku muncul bersemi seperti bunga sakura ini, tapi ternyata kenyataan yang ku hadapi begitu pahit.
“Aku dinikahkan oleh orang tuaku secara sepihak, tanpa meminta persetujuanku terlebih dahulu. Aku tak bisa menolaknya karena kedua orang tuaku begitu keras. Mungkin orang-orang di kantor tidak tahu dengan latar belakang keluargaku karena aku tak pernah menceritakannya. Sosok ‘Zidan’ yang periang dan berenerjik itu adalah bentuk ekspresi yang ku tunjukkan di hadapan publik untuk menutupi rasa sedih yang selalu ku rasakan setiap saat. Maaf aku baru menceritakan semuanya padamu hari ini Li.”
Aku masih terdiam dan membatu, membeku seperti es yang tak kunjung cair. Jujur saja aku tak begitu menangkap ucapan Zidan barusan karena aku masih shock dengan pernyataan Zidan yang akan menikah.
Mungkin karena ia khawatir dengan diriku yang terus terdiam tanpa sepatah kata, akhirnya ia memecah lamunanku.
“Li? kau tidak apa-apa? apa kau mendengarkanku tadi?”
Air mata yang tak sanggup ku tampung ini meluber ke luar. Aku tak kuasa menahan rasa sedih ini. Aku menangis di hadapan Zidan. Ia nampak kebingungan dan bertanya kembali.
“Heyy... jangan nangis Li... kenapa kau menangis? harusnya aku yang menangis disini.” Ucap Zidan berusaha menghiburku, nampak matanya yang begitu berkaca-kaca seolah ia pun bisa menangis kapan saja.
Aku mengusap mataku dengan sapu tangan yang selalu ku bawa, mengusap hidung yang terus meler sedari tadi. Dengan suara isak yang masih tak kunjung berhenti, aku mulai bicara.
“Kau... hiks hiks hiks... Kau jahat Zid...”
“Mengapa kau baru mengatakannya sekarang? Di saat semua ini sudah terlambat...” ucapku dengan tersedu-sedu sambil menangis.
“Maaf... maaf Li.”
“Tak perlu minta maaf, harusnya aku tak berharap besar darimu. Sejak dulu aku menyukaimu Zid, kau yang selama ini ku jadikan motivasi untuk terus semangat bekerja. Kau yang selama ini menjadi arti dalam hidupku. Dan kini kau ingin mengucapkan selamat tinggal begitu saja? Tega sekali kau Zid...” tangisanku terdengar semakin kencang. Semua orang di sekitar mulai memperhatikan kami berdua.
Zidan mendekapku, ia memelukku berusaha meredakan tangisanku yang semakin menjadi-jadi. Namun aku langsung menyangkalnya, mendorongnya.
“Tak perlu Zid, aku tak butuh itu. Aku hanya perlu waktu untuk sendiri. Biarlah aku bersedih sebentar. Biarlah waktu yang menjawab dan mengobati semua luka yang ku rasakan ini.”
Zidan hanya teridam tak bisa berkata-kata. Ia duduk di sebelahku, menemaniku yang sedang menangis tak henti-henti ini. 20 menit telah berlalu sejak aku menangis. Zidan mulai mengangkat tubuhnya dan berdiri, ia pamit dengan ucapan terakhir “Maaf” sambil membungkukkan badannya 45 derajat ke arahku. Ku yakin itu adalah ucapan permintaan maaf yang sangat tulus, namun aku masih belum bisa menerimanya. Ia meninggalkanku dalam kesendirian di tengah hamparan indahnya bunga sakura ini. Sungguh hari yang menyedihkan.
***
Pipiku sudah basah dengan sendirinya oleh tetesan air mata yang ternyata sejak tadi sudah mengalir. Aku menangis setelah mengingat kembali kejadian itu. Beberapa orang yang berlalu lalang mulai memperhatikanku yang terus meneteskan air mata. Aku tahu bahwa tak seharusnya aku terlalu berharap dengan manusia, terutama dengan lelaki yang bisa dengan mudahnya datang dan pergi begitu saja. Ini bukan salah Zidan, melainkan salah takdir. Kita berdua tidak ditakdirkan bersama. Aku hanya bisa berharap, tapi semua itu percuma. Tak ada yang bisa kau dapatkan jika terlalu berharap.
---TAMAT---
Banyumas, 20 Juli 2025

Komentar
Posting Komentar